|
Itu yang ada dalam pikiran gue selama beberapa detik ini. Bangga juga, akhirnya otak gue bisa mikir selain pikiran-pikiran serba absurd seperti selama ini. Gak tau kenapa, tiba-tiba pikiran ini datang ke otak gue tanpa permisi. Mungkin gak pernah diajarin sama orang tuanya kali ya. Emang dia punya orang tua?? (mulai lagi dengan
pikiran absurd)
Selama ini, kenapa kalau kita ngeliat anak-anak kecil lagi maen bareng teman-teman sebayanya, mereka seolah-olah hidup tanpa beban. Mereka hanya tau makan, tidur, pipis, pup (walaupun gak di tempat yang semestinya). Tapi, siapa peduli?? Toh, mereka masih anak-anak. Beda dengan gue yang sekarang kata orang udah remaja, meskipun gue gak pernah tau dimana batas antara anak-anak atau remaja. Sampai sekarang gue masih beranggapan, batasan anak-anak dan remaja adalah ketika mereka telah mempunyai bentuk “titit” yang berbeda, atau ketika udah pernah mimpi buruk ketemu cewek tanpa pakaian dan teriak “ahh, ahh, ahh…..” . Karena emang gak pernah ada batasan yang baku.
Balik ke topic..
anak-anak gak pernah ragu dalam ngambil keputusan, karena mereka memang gak memikirkan resiko yang bakal mereka hadapi. Tapi mereka akan belajar setelah menghadapi resiko-resiko yang terjadi.
Ketika seorang anak berada di puncak gedung pencakar langit, kalau dia terjun, maka setelah sampai di bawah, dia bakalan belajar kalau terjun dari gedung pencakar langit bukanlah keputusan yang tepat (catatan : hanya jika otaknya masih ada di kepala).
Kasus lainnya. Anak-anak gak pernah takut atau malu untuk ngelakuin kesalahan. Orang lain cuma bakalan mikir “maklum, anak-anak”
kalau orang dewasa contohnya gue, yang ngelakuin kesalahan, gak bakal ada kata “maklum”. Kata-kata yang paling halus paling cuma “kau gak punya otak y!??”
gue gak tau juga. Apa pikiran kayak gini cuma ada di kepala gue doang. Kalau ngeliat realita sekarang, kayaknya anak-anak berlomba-lomba buat ninggalin identitas mereka sebagai anak-anak menjadi “orang yang udah bisa bikin anak”. Cewek-cewek SMP dengan dandanan ala ibu-ibu arisan. Bibir merah, muka putih tapi leher agak kehitaman. Jalan melenggok dengan dada yang udah membusung jadi makin membusung. KEJAMNYA DUNIA
tapi, memang gak setiap sifat anak-anak bisa dipakai. Dan ini kisah nyata, gara-gara kerupuk, 2 orang anak bernama Ucup dan Mahbub jadi saling adu mulut (bukan cipokan, tapi perang mulut). Atau masih dengan orang yang sama, yaitu Mahbub dan Fredi yang hampir saling bunuh hanya gara-gara Facebook.
Jadi, mohon kepada orang tua yang mempunyai anak-anak dengan nama-nama seperti yang disebutkan di atas, agar segera memeriksakan anaknya ke Rumah Sakit Jiwa terdekat karena sudah mulai meresahkan warga.
pikiran absurd)
Selama ini, kenapa kalau kita ngeliat anak-anak kecil lagi maen bareng teman-teman sebayanya, mereka seolah-olah hidup tanpa beban. Mereka hanya tau makan, tidur, pipis, pup (walaupun gak di tempat yang semestinya). Tapi, siapa peduli?? Toh, mereka masih anak-anak. Beda dengan gue yang sekarang kata orang udah remaja, meskipun gue gak pernah tau dimana batas antara anak-anak atau remaja. Sampai sekarang gue masih beranggapan, batasan anak-anak dan remaja adalah ketika mereka telah mempunyai bentuk “titit” yang berbeda, atau ketika udah pernah mimpi buruk ketemu cewek tanpa pakaian dan teriak “ahh, ahh, ahh…..” . Karena emang gak pernah ada batasan yang baku.
Balik ke topic..
anak-anak gak pernah ragu dalam ngambil keputusan, karena mereka memang gak memikirkan resiko yang bakal mereka hadapi. Tapi mereka akan belajar setelah menghadapi resiko-resiko yang terjadi.
Ketika seorang anak berada di puncak gedung pencakar langit, kalau dia terjun, maka setelah sampai di bawah, dia bakalan belajar kalau terjun dari gedung pencakar langit bukanlah keputusan yang tepat (catatan : hanya jika otaknya masih ada di kepala).
Kasus lainnya. Anak-anak gak pernah takut atau malu untuk ngelakuin kesalahan. Orang lain cuma bakalan mikir “maklum, anak-anak”
kalau orang dewasa contohnya gue, yang ngelakuin kesalahan, gak bakal ada kata “maklum”. Kata-kata yang paling halus paling cuma “kau gak punya otak y!??”
gue gak tau juga. Apa pikiran kayak gini cuma ada di kepala gue doang. Kalau ngeliat realita sekarang, kayaknya anak-anak berlomba-lomba buat ninggalin identitas mereka sebagai anak-anak menjadi “orang yang udah bisa bikin anak”. Cewek-cewek SMP dengan dandanan ala ibu-ibu arisan. Bibir merah, muka putih tapi leher agak kehitaman. Jalan melenggok dengan dada yang udah membusung jadi makin membusung. KEJAMNYA DUNIA
tapi, memang gak setiap sifat anak-anak bisa dipakai. Dan ini kisah nyata, gara-gara kerupuk, 2 orang anak bernama Ucup dan Mahbub jadi saling adu mulut (bukan cipokan, tapi perang mulut). Atau masih dengan orang yang sama, yaitu Mahbub dan Fredi yang hampir saling bunuh hanya gara-gara Facebook.
Jadi, mohon kepada orang tua yang mempunyai anak-anak dengan nama-nama seperti yang disebutkan di atas, agar segera memeriksakan anaknya ke Rumah Sakit Jiwa terdekat karena sudah mulai meresahkan warga.

Yes indeed, in some moments I can reveal that I approve of with you, but you may be inasmuch as other options.
to the article there is even now a without question as you did in the decrease issue of this demand www.google.com/ie?as_q=huntersoft 2008 aio ?
I noticed the catch-phrase you suffer with not used. Or you functioning the dreary methods of inspiriting of the resource. I take a week and do necheg
Your Ferrdenants :)
dn kenal orang2 tu mah